Rabu, 16 Maret 2011

DAYA TAHAN KARDIORESPIRASI

A. Pengertian Daya Tahan Kardiorespirasi

Daya tahan kardiorespirasi adalah kesanggupan sistem jantung, paru dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal pada keadaan istirahat dan kerja dalam mengambil oksigen dan menyalurkannya ke jaringan yang aktif sehingga dapat digunakan pada proses metabolisme tubuh (DepKes, 1999).

Daya tahan kardiorespirasi merupakan komponen terpenting dari kesegaran jasmani (DepKes, 1999). Blain berpendapat daya tahan kardiorespiasi yang tinggi menunjukkan kemampuan untuk bekerja yang tinggi, yang berarti kemampuan untuk mengeluarkan sejumlah energi yang cukup besar dalam periode waktu yang lama ( Sharkey, 2010).

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Tahan Kardiorespirasi

Daya tahan kardiorespirasi dipengaruhi beberapa faktor yakni genetik, umur dan jenis kelamin, aktivitas fisik, komposisi lemak tubuh dan kebiasaan merokok.

1. Genetik

Daya tahan kardiovaskuler dipengaruhi oleh faktor genetik yakni sifat-sifat spesifik yang ada dalam tubuh seseorang sejak lahir. Penelitian dari Kanada telah meneliti perbedaan kebugaran aerobik diantara saudara kandung (dizygotic) dan kembar identik

(monozygotic), dan mendapati bahwa perbedaannya lebih besar pada saudara kandung dari pada kembar identik.

Pengaruh genetik pada kekuatan otot dan daya tahan otot pada umumnya berhubungan dengan komposisi serabut otot yang terdiri dari serat merah dan serat putih. Seseorang yang memiliki lebih banyak lebih tepat untuk melakukan kegitan bersifat aerobic, sedangkan yang lebih banyak memiliki serat otot rangka putih, lebih mampu melakukan kegiatan yang bersifat anaerobic.

Demikian pula pengaruh keturunan terhadap komposisi tubuh, sering dihubungkan dengan tipe tubuh. Seseorang yang mempunyai tipe endomorf (bentuk tubuh bulat dan pendek) cenderung memiliki jaringan lemak yang lebih banyak bila dibandingkan dengan tipe otot ektomorf (bentuk tubuh kurus dan tinggi) (DepKes, 1994).

2. Umur

Umur mempengaruhi hampir semua komponen kesegaran jsmani. Daya tahan kardiovaskuler menunjukkan suatu tendensi meningkat pada masa anak-anak sampai sekitar dua puluh tahun dan mencapai maksimal di usia 20 sampai 30 tahun (Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas, 1994). Daya tahun tersebut akan makin menurun sejalan dengan bertambahnya usia, dengan penurunan 8-10% perdekade untuk individu yang tidak aktif, sedangkan untuk individu yang aktif penurunan tersebut 4-5% perdekade (Sharkey, 2010).

Peningkatan kekuatan otot pria dan wanita sama sampai usia 12 tahun, selanjutnya setelah usia pubertas pria lebih banyak peningkatan kekuatan otot, maksimal dicapai pada usia 25 tahun yang secara berangsur-angsur menurun dan pada usia 65 tahun kekuatan otot hanya tinggal 65-70% dari kekuatan otot sewaktu berusia 20 sampai 25 tahun.

Pengaruh umur terhadap kelenturan dan komposisi tubuh pada umumnya terjadi karena proses menua yang disebabkan oleh menurunnya elastisitas otot karena berkurangnya aktivitas dan timbulnya obes pada usia tua (DepKes, 1994).

3. Jenis Kelamin

Kesegaran jasmani antara pria dan wanita berbeda karena adanya perbedaan ukuran tubuh yang terjadi setelah masa pubertas. Daya tahan kardiovaskuler pada masa pubertas terdapat perbedaan , karena wanita memiliki jaringan lemak yang lebih banyak di bandingkan pria.Hal yang sama juga terjadi pada kekuatan otot ,karena perbedaan kekuatan otot antara pria dan wanita disebabkan oleh perbedaan ukuran otot baik besar maupun proposinya dalam tubuh.

4. Kegiatan Fisik

Kegiatan yang mempengaruhi semua komponen kesegaran jasmani,Latihan yang bersifat aerobic yang di lakukan secara teratur akan meningkatkan dayatahan kardiovaskuler dan dapat mengurangi lemak tubuh . Dengan melakukan latihan olahraga atau kegiatan fisik yang baik dan benar berarti seluruh organ dipicu untuk menjalankan fungsinya sehingga mampu beradaptasi terhadap setiap beban yang diberikan.

Latihan fisik akan menyebabkan otot menjadi kuat. Perbaikan fungsi otot, terutama otot pernapasan menyebabkan pernapasan lebih efisien pada saat istirahat.Ventilasi paru pada orang yang terlatih dan tidak terlatih relative sama besar, tetapi orang yang berlatih bernapas lebih lambat dan lebih dalam. Hal ini menyebabkan oksigen yang diperlukan untuk kerja otot pada proses ventilasi berkurang, sehingga dengan jumlah oksigen sama, otot yang terlatih akan lebih efektif kerjanya (Kravitz, 1997).

Pada orang yang dilatih selam beberapa bulan terjadi perbaikan pengaturan pernapasan. Perbaikan ini terjadi karena menurunnya kadar asam laktat darah, yang seimbang dengan pengurangan penggunaan oksigen oleh jaringan tubuh. Latihan fisikakan mempengaruhi organ sedemikian rupa sehingga kerja organ lebih efisien dan kapasitas kerja maksimum yang dicapai lebih besar. Factor yang paling penting dalam perbaikan kemampuan pernapasan untuk mencapai tingkat optimal adalah kesanggupan untuk meningkatkan capillary bed yang aktif, sehingga jumlah darah yang mengalir di paru lebih banyak, dan darah yang berikatan dengan oksigen per unti waktu juga akan meningkat. Peningkatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen (Kravitz, 1997).

Penurunan fungsi paru orang yang tidak berolahraga atau usia tua terutama disebabkan oleh hilangnya elastisitas paru-paru dan otot dinding dada. Hal ini menyebabkan penurunan nilai kapasitas vital dan nila forced expiratory volume, serta meningkatkan volume residual paru (Kravitz, 1997).

Menurut Bucher (1983) ada sejumlah keuntungan penting bagi organ tubuh vital akibat dari latihan yang teratur, yaitu :

a. Pengaruh latihan terhadap kesehatan umum otot jantung.

Bukti yang ada menunjukkan bahwa otot jantung ukurannya meningkat karena digunakan dengan tuntutan yang lebih besar diletakkan pada jantung sebagai akibat dari aktivitas jasmani, terjadi pembesaran jantung.

b. Pengaruh latihan terhadap isi sedenyut

Hasil penelitian pada atlet, pada umumnya disepakati bahwa jumlah isi darah perdenyut jantung lebih besar dipompakan ke seluruh tubuh dari pada orang yang tidak terlatih.

Atlet terlatih dapat memompakan sebanyak 22liter darah sedangkan individu yang tidak terlatih hanya 10,2liter darah saja.

c. Pengaruh latihan terhadap denyut jantung

Hasil tes dari atlet olimpiade, diperoleh bukti bahwa individu yang terlatih mempunyai denyut jantung yang tidak cepat bila dibandingkan dengan orang yang tidak terlatih. Diperkirakan bahwa jantung manusia berdenyut 6 sampai 8 kali lebih sedikit bila seseorang terlatih. Pada kebanyakan atlet jantungnya berdenyut 10, 20 sampai 30 kali lebih sedikit dari pada denyut jantung yang tidak terlatih

d. Pengaruh latihan terhadap tekanan arteri

Banyak eksperimen menunjukkan bahawa peningkatan tekanan darah pada orang terlatih lebih sedikit dari pada orang yang tidak terlatih.

e. Pengaruh latihan terhadap pernafasan

1) Dada bertambah luas. Hal ini terjadi semasa pertumbuhan, tetapi tidak pada masa dewasa.

2) Jumlah pernafasan permenit berkurang. Orang terlatih bernafas 6 sampai 8 kali permenit, sedangkan pada orang yang tidak terlatih sebanyak 18 sampai 20 kali permenit.

3) Pernafasan lebih dalam dengan diafragma. Pada orang yang tidak terlatihdiafragma bergerak sedikit sekali.

4) Dalam mengerjakan pekerjaan yang sama, individu yang terlatih menghirup udara dalam jumlah yang lebih kecil, dan mengambil oksigen lebih besar dari pada individu yang tidak terlatih. Ada keyakinan bahwa peningkatan jumlah kapiler dalam paru-paru, menyebabkan jumlah darah yang berhubungan dengan udara lebih besar yang mengakibatkan ekonomi dalam pernafasan.

5) Pengaruh latihan terhadap sistem otot.

Beberapa keuntungan dari akibat latihan terhadap otot-otot diantaranya adalah :

a) Sarkoma dari serabut otot menjadi lebih tebal dan kuat.

b) Ukuran otot bertambah.

c) Kekuatan otot meningkat.

d) Daya tahan otot meningkat.

e) Terjadi penambahan jumlah kapiler.

Hal ini ini menyebabkan peredaran darah ke otot lebih baik ( David, 2004)

5. Kebiasan Merokok

Sudah lama diketahui efek jelek rokok terhadap paru-paru, antara lain adalah penyakit paru obstruktif menahun yang dikenal dengan COPD (David, 2004).

Pada asap tembakau terdapat 4% karbon monoksida (CO). Afinitas CO pada hemoglobin 200-300 kali lebih kuat dari pada oksigen, ini berarti CO tersebut lebih cepat mengikat hemoglobin dari pada oksigen. Hemoglobin dalam tubuh berfungsi sebagai alat pengangkutan oksigen untuk diedarkan ke jaringan tubuh yang memerlukannya. Bila seseorang merokok 10-20 batang sehari di dalam hemoglobin mengandung 4,9% CO maka kadar oksigen yang diedarkan ke jaringan akan menurun sekitar 5% (DepKes, 1994).

Selain itu dalam rokok mengandung NO dan NO2, merupakan substansia yang dapat memicu terbentuknya radikal bebas yang berlebihan yang menyebabkan terbentuknya lipid peroksida yang lebih lanjut merusak dinding sel. Beberapa sel tubuh telah terbukti mengalami proses degeneratif antara lain membran sel endotel, pembuluh darah, epitel paru, lensa mata dan neuron (David, 2004).

C. Kesehatan Kardiorespirasi

1. Sistem Respirasi (Sistem Pernafasan)

a. Pengertian Pernafasan

Pernafasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 ke dalam tubuh serta menghembuskan sel tubuh telah terbukti mengalami proses degeneratif antara lain membran sel endotel, pembuluh darah, epitel paru, udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara O 2 dan CO2 .

b. Gerakan Pernafasan

Dalam gerakan pernafasan terjadi dua tahap yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi atau menarik nafas adalah proses aktif yang diselenggarakan oleh kerja otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai bawah yaitu ventrikel. Penaikan iga-iga dan sternum yang ditimbulkan oleh kontrasi otot inter kostalis, meluaskan rongga dada ke kedua sisi dan dari belakang ke depan. Sedangkan ekspirasi, udara dipaksa keluar oleh pengendoran otot dan karena paru-paru mengempes kembali, disebabkan sifat elestik paru-paru itu. Gerakan ini disebut proses pasif. Ketika pernafasan sangat kuat, gerakan dada bertambah. Otot leher dan bahu membantu menarik iga-iga dan sternum ke atas. Otot sebelah belakang dan abdomen juga dibawa bergerak dan alae nasi (cuping atau sayap hidung) dapat kembang-kempis (Smeltzer, 2002).

c. Proses Terjadinya Pernafasan

Di dalam proses pernafasan terbagi menjadi dua golongan yaitu : respirasi eksternal ialah masuknya udara dari saluran pernafasan ke dalam paru, dan respirasi internal ialah pertukaran antara sel dan cairan di sekitarnya. Pada pernafasan melalui paru atau pernafasan eksternal, oksigen dihirup melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernafas oksigen masuk melalui trachea dan pipa bronchial ke alveoli dan erat hubungannya dengan darah di dalam kapiler pulmunaris (Evelyn,2000). Sedangkan pada pernafasan jaringan atau internal, darah yang telah menjenuhkan hemoglobinnya dengan oksigen (oxihemoglobin), mengitari seluruh tubuh dan akhirnya mencapai kapiler, di mana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan mengambil oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung dan darah menerima sebagai gantinya hasil buangan oksidasi yaitu karbondioksida. Perubahan-perubahan berikut terjadi dalam komposisi udara dalam alveoli yang disebabkan pernafasan eksterna dan pernafasan interna atau pernafasan jaringan.

Udara (atsmosfer) yang dihirup:

1. Nitrogen :79 %

2. Oksigen : 20 %

3. Karbondioksida : 0-04 %

Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfer.

Udara yang dihembuskan :

1. Nitrogen :79 %

2. Oksigen : 16 %

3. Karbondioksida : 4-0,4 %

d. Saluran Pernafasan

Saluran pernafasan terdiri atas hidung, faring (tekak), trakea (batang tenggorok), bronkus, bronkiolus, dan alveolus atau kantong udara.(Smeltzer, 2002).

e. Frekuensi Pernafasan

Frekuensi pernafasan berkisar antara 13-18 per menit. Ada beberapa factor yang mempengaruhi frekuensi pernafasan yaitu 1. Umur : makin bertambah usianya biasanya makin bertambah kecil. 2. Jenis kelamin : pada laki-laki lebih kecil daripada wanita. 3. Suhu tubuh : makin tinggi suhu tubuh makin meningkat frekuensi pernafasannya. 4. Posisi tubuh : orang berbaring akan lebih rendah frekuensinya dibandingkan orang duduk dan orang berdiri. 5. Kegiatan tubuh : orang yang sedang giat bekerja akan lebih tinggi frekuensinya ketimbang orang yang istirahat (Slamet Prawirohartono,1991).

Untuk menghitung jumlah frekuensi pernafasan, dapat dengan menghitung berapa kali dada naik dan turun dalam satu menit. Angka ini berubah karena emosi, dan pengukuran terbaik saat orang tersebut tidur atau tidak menyadari akan perhitungan tersebut. Seperti pada jumlah denyut nadi, jumlah pernafasan bertambah bersamaan dengan bertambahnya usia.

Di dalam Prodia (1997) menyatakan bahwa dari berbagai penelitian menunjukkan kapasitas paru-paru tidak menurun dengan bertambahnya usia. Akan tetapi, kapasitas vital dan volume residual terpengaruh dengan adanya proses menua. Paru-paru berkurang elastisitasnya, yang mengakibatkan penurunan.

2. Sistem Cardiovaskuler (Sistem Jantung dan Pembuluh Darah)

a. Pengertian Denyut Jantung

Darah yang mengalir ke setiap jaringan tubuh dipengaruhi oleh kerja jantung dan hampir seluruhnya diatur oleh Pace Maker (pacu) jantung yang disebut SA Node dan secara simultan dilanjutkan oleh kontraksi otot. Untuk mengetahui dinamika sistem sirkulasi darah dalam tubuh yang paling sederhana adalah dengan cara pemeriksaan denyut nadi sebagai indikator kerja jantung. Sedangkan denyut nadi adalah perubahan tiba-tiba dari tekanan jantung yang dirambatkan sebagai gelombang pada dinding pembuluh darah.

Denyut nadi sebagian besar merupakan indeks pekerjaan jantung, tetapi elastisitas pembuluh darah yang lebih besar, viskositas darah, resistensi arteriol dan kapiler memegang peranan penting dalam menetapkan sifat-sifat tertentu dari denyut nadi. Istilah denyut nadi sendiri merupakan manifestasi dari kemampuan denyut jantung yang dihitung tiap menitnya dengan menggunakan repetisi (kali/menit).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi

Pencapaian hasil pengukuran masing-masing testee mempunyai sifat-sifat tertentu yang berpengaruh. Adapun sifat-sifat denyut nadi yang berpengaruh adalah sebagai berikut : kecepatan ( cepat atau lambat), ukuran (besar atau kecil), jenis gelombang (memendek atau memanjang), irama (teratur atau tidak teratur), tegangan ( lemah atau kuat) (dalam skripsi Baitul, 2003). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi yaitu antara lain aktivitas fisik, suhu badan, obat-obatan, emosi, makan/digesti, dan kehamilan bulan terakhir (Woro, 1999).

Kondisi seseorang yang normal mempunyai sistem sirkulasi darah yang baik, maka kecepatan denyut jantung pada saat istirahat lebih rendah serta mempunyai tingkat kesegaran jasmani yang baik. Hal ini terjadi karena alat-alat jantung kuat dan terlatih sehingga dalam penggunaannya lebih efesien yaitu dengan kecepatan yang sedikit dapat memompa jantung lebih banyak sehingga kebutuhan sirkulasi darah dalam tubuh dapat terpenuhi.

c. Jantung dan Latihan

Salah satu fungsi utama jantung adalah sebagai alat transportasi pengangkutan gas oksigen dan karbondioksida. (Tjaliek Sugianto, 1992:114). Dalam fungsinya sebagai pembawa gas, fungsi ini tidak lepas dari fungsi paru39 paru, sehingga kedua alat tersebut sulit sekali dipisahkan sebagai kesatuan fungsi yang lebih sering disebut sebagai istilah cardio respirasi.

Akibatnya ialah pada waktu aktivitas tidak mungkin salah satu system cardiorespirasi meningkat maka yang lainnya akan meningkat pula. Di dalam suatu aktivitas fisik kebutuhan otot akan oksigen meningkat dari keadaan normal, hal ini menyebabkan tubuh akan mengoptimalkan sistem cardiorespirasi untuk memasok kebutuhan otot akan oksigen. Hal ini membuat kerja jantung akan naik sesuai dengan tingkat berat aktivitas latihan tersebut. Parameter untuk mengukur mengetahui berat atau tidaknya suatu latihan seseorang adalah bisa dengan melihat sistem cardiorespirasi.

3. Tekanan Darah

a. Pengertian tekanan darah

Tekanan darah arterial adalah kekuatan tekanan darah ke dinding pembuluh yang menampungnya (Evelyn,2000). Tekanan darah adalah tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan daerah dari dinding pembuluh darah tersebut (Price, 2005).

b. Pengukuran tekanan darah

Pengukuran tekanan darah arterial yaitu dengan menggunakan alat sfignomanometer (Evelyn,2000). Pengukurannya dengan cara lengan atas dibalut dengan selembar kantong karet yang dapat digembungkan yang terbungkus dalam sebuah manset dan disambungkan dengan sebuah pompa dan manometer. Dengan memompa maka tekanan dalam kantong karet cepat naik sampai 200 mmHg yang cukup untuk menjepit sama sekali arteri brakhial, sehingga tidak ada darah yang dapat lewat, dan denyut nadi pergelangan menghilang. Kemudian tekanan diturunkan sampai suatu titik dimana denyut dapat dirasakan atau lebih tepat bila menggunakan stetoskop, denyut arteri brakhialis pada lekukan siku dengan jelas dapat di dengar. Pada titik ini tekanan yang tampak pada kolom air raksa dalam manometer dianggap tekanan sistolik. Kemudian tekanan di atas arteri brakhialis perlahan-lahan dikurangi sampai bunyi jantung atau pukulan denyut arteri dengan jelas dapat didengar atau dirasakan. Pada titik dimana bunyi mulai menghilang dianggap tekanan diastolik.

c. Tensi atau Desakan Darah

Pada saat ventricul berkontraksi atau sistyole, sejumlah darah terperas keluar, volume sebesar 70 cc. Volume ini disebut sisi sekuncup. Bila jantung berdenyut dengan frekuensi 70 x semenit, berarti volume dara yang dikeluarkan (diperas keluar) oleh jantung semenit sebesar 70 x 70 cc = 5 liter, ini disebut Cardiac output atau sisi semenit jantung. Pada saat darah diperas keluar dari ventrikul kiri keseluruh tubuh, mendapat tahanan dari darah yang setelah ada di depannya dan desakan dari dinding pembuluh, desakan ini disebut tensi darah. Ada dua macam desakan darah yaitu : 1) desakan sistole yang tertinggi pada akhir sistole ventrikul kiri, 2) desakan diastole yang terendah pada saat relaksasi (mengendor) setelah kontraksi (Price, 2005).

d. Faktor yang Mempertahankan Tekanan Darah

Faktor-faktor yang mempertahankan tekanan darah yaitu antara lain : kekuatan memompa jantung, banyaknya darak yang beredar, viskosiats (kekentalan) darah, elastisitas dinding pembuluh darah, tahanan tepi.

e. Faktor yang mempengaruhi tekanan darah

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah seseorang yaitu antara lain : umur, jenis kelamin, emosi, aktivitas kerja, sikap tubuh (tidur, duduk), waktu (pagi, siang, malam) (Oktia Woro, 2000).

Pada umumnya tekanan darah tidak stabil sepanjang hari, tetapi menunjukkan fluktuasi yang diepngaruhi oleh aktivitas, emosi dan sebagainya, terutama tekanan sistolik. Sedangkan tekanan diastolik relatif stabil, oleh karena itu tekanan darah yang normal harus ditentukan tidak pada suatu saat saja, tetapi berulang-ulang. Tekanan darah pada setiap orang bisa mengalami tekanan darah yang tinggi dan juga bisa mengalami tekanan darah yang rendah. Tekanan darah yang naik di atas yang normal atau tekanan darah yang tinggi disebut hipertensi. Sedangkan tekanan darah yang di bawah normal atau tekanan darah yang rendah disebut hipotensi (Evelyn,2000). Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu antara lain factor keturunan, konsumsi garam dapur melebihi 15 g/hari, berat badan berlebihan, kurang beraktivitas fisik, serta faktor mental (stress), serta penggunaan obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (Wirakusumah,2000)

Tekanan darah pada pembuluh darah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor dasar yang mempengaruhinya adalah cardiac output, total tahanan perifer pembuluh darah di arteriola, volume darah, dan viskositas darah. Dengan faktor tersebut, tubuh kita melakukan kontrol agar tekanan darah menjadi normal dan stabil. Pengaturan pembuluh darah yang bekerja dalam mengontrol tekanan darah yaitu pengaturan lokal, saraf dan hormonal.

Kontrol lokal (intrinsik) adalah perubahan-perubahan di dalam suatu jaringan yang mengubah jari-jari pembuluh, sehingga alirah darah ke jaringan tersebut berubah melalui efek terhadap otot polos arteriol jaringan. Kontrol lokal sangat penting bagi otot rangka dan jantung, yaitu jaringan-jaringan yang aktivitas metabolik dan kebutuhan akan pasokan darahnya sangat bervariasi, dan bagi otak, yang aktivitas metabolic keseluruhannya dan kebutuhan akan pasokan darah tetap konstan. Pengaruh-pengaruh lokal dapat bersifat kimiawi atau fisik.

D. Mengukur Daya Tahan Kardiorespirasi Dengan Treadmill Test

1. Pengertian

Treadmill tes merupakan suatu bentuk pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui kemampuan maksimal kerja jantung pada saat melakukan aktifitas. Pada pemeriksaan ini pasien diharuskan berjalan diatas ban treadmill dan setiap 3 menit beban maupun kecepatan alat tersebut akan ditingkatkan.

Treadmill tes merupakan suatu bentuk pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui kemampuan maksimal kerja jantung pada saat melakukan aktifitas. Pada pemeriksaan ini pasien diharuskan berjalan diatas ban treadmill dan setiap 3 menit beban maupun kecepatan alat tersebut akan ditingkatkan. Tes dihentikan apabila pasien ada keluhan, atau target nadi maksimal telah dicapai atau adanya perubahan terhadap rekaman EKG maupun tekanan darah yang tidak normal.

Biasanya treadmill tes dilakukan untuk menegakkan diagnosa adanya Penyakit jantung koroner, mengevaluasi hasill pengobatan, dan menentukan prognosa dari kelainan kardiovaskuler. Selain itu biasanya treadmill tes dilakukan untuk mengevaluasi keluhan seperti nyeri dada, sesak nafas. Akan tetapi ada beberapa kondisi dimana treadmill tes tidak bisa dilakukan yakni pada pasien yang mengalami infark miokard akut kurang dari lima hari, angina pectoris yang tidak stabil, kondisi hipertensi berat, dan vertigo. Apabila saat tes dilakukan pasien ada keluhan, atau target nadi maksimal telah dicapai atau adanya perubahan terhadap rekaman EKG maupun tekanan darah yang tidak normal, biasanya tes akan langsung dihentikan.


STROKE DAN PENATALAKSANAANNYA

1. Pengertian

Stroke adalah kehilangan fungsi otak secara mendadak yang diakibatkan oleh gangguan supalai darah ke bagian otak. (Brunner & Sudarth, 2000). Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya supalai darah kebagian otak. (Brunner & Sudarth, 2002)

Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak. (Elizabeth J. Corwin, 2002). Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif, cepat berupa defisit neurologis vokal atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. Semata-mata disebabkan oleh peredaran darah otak non traumatik. (Mansjoer A. Dkk, 2000)

Stroke adalah defisit neurologis yang mempunyai awitan mendadak atau berlangsung 24 jam sebagai akibat dari cerebrovaskular desease (CVD) atau penyakit cerebrovaskular. (Hudak and Gallo)


troke merupakan manifestasi neurologis yang umum yang timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan suplai darah ke otak. (Depkes RI 1996). Timbulnya lesi iskemik atau lesi perdarahan didalam pembuluh darah intrakanial.

Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral baik lokal maupun menyeluruh.

Stroke atau penyakit serebrovaskuler menunjukan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak. ( Doenges, 2000)

Stroke atau serebrovaskuler accident adalah gangguan suplai darah normal ke otak yang sering terjadi dengan tiba-tiba dan menyebabkan fatal neurologik deficit. (Igrativicius, 1995)

2. Klasifikasi stroke

Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :

a. Stroke hemoragik

Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak.Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat.Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.

b. Stroke non hemoragik

Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak.Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak.

Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaitu :

1) TIA (Trans Ischemic Attack)

Yaitu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

2) Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)

Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu.

3) Stroke in Volution

Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.

4) Stroke Komplit

Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanen.

3. Etiologi

Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ;

a. Hipertensi, dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.

b. Aneurisma pembuluh darah cerebral

Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan.

c. Kelainan jantung / penyakit jantung

Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah.

d. Diabetes mellitus (DM)

Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.

e. Usia lanjut

Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.

f. Polocitemia

Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.

g. Peningkatan kolesterol (lipid total)

Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.

h. Obesitas

Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh darah otak.

i. Perokok

Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis.

j. Kurang aktivitas fisik

Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (pembuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.

4. Patofisiologi

a. Stroke non hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus.Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak.Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.

b. Stroke hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

5. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena.

a. Pengaruh terhadap status mental

1) Tidak sadar : 30% - 40%

2) Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar

b. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:

1) Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%)

2) Afasia bila mengenai hemisfer dominan (35%-50%)

3) Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%)

c. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:

1) hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)

2) inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena

d. Daerah arteri serebri posterior

1) Nyeri spontan pada kepala

2) Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%)

e. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan:

1) Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak

2) Hemiplegia alternans atau tetraplegia

3) Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil)

6. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan penunjang diagnostik yang dapat dilakukan adalah :

a. Laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.

b. Angiografi Serebral : Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarakan, obstruksi arteri, adanya titik oklusi/ ruptur.

c. Scan CT : Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemik, dan adanya infark.

d. Fungsi Lumbal : Menunjukan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis, emboli serabral dan TIA, sedangkan tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menujukan adanya hemoragi suaraknoid intrakranial. Kadar protein meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan adanya proses imflamasi.

e. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik, malformasi arteriovena (MAV)

f. EEG : Mengidentifikasi maslah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin adanya daerah lesi yang spesifik.

g. Sinar X tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas; klasifikasi karptis interna terdapat pada trombosis serebral.

h. Ultrasonografi Doppler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah system arteri karotis), aliran darah / muncul plak (arteriosklerotik)

7. Penatalaksanaan medis

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien paska stroke adalah:

a. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil

b. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan

c. Tanda-tanda vital diusahakan stabil

d. Bed rest

e. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia

f. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

g. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi

h. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik

i. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK

j. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT

k. Penatalaksanaan spesifik berupa:

- Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat hemoragik

- Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya, neuroprotektor, tindakan pembedahan, menurunkan TIK yang tinggi