Sabtu, 06 Desember 2008

BASIC LIFE SUPPORT / BANTUAN HIDUP DASAR

BASIC LIFE SUPPORT / BANTUAN HIDUP DASAR

Oleh :
Dirhamsyah Tabes, S.Kep. Ners






Pendahuluan
Keadaan gawat darurat bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan juga pada siapa saja. Keadaan ini membuat masyarakat dituntut untuk mengetahui lebih baik bagaimana tindakan pertolongan pertama pada korban yang masuk dalam keadaan gawat darurat tersebut. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit dengan prevalensi yang tinggi dalam kegawatdaruratan. Banyak korban yang mengalami serangan jantung atau heart attack tidak mendapatkan pertolongan yang layak dan semestinya sehingga mortalitas untuk kasus ini sangat tinggi.

Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan yang dilakukan untuk menolong korban yang dalam keadaan kehidupan (nyawanya) terancam. Tindakan ini merupakan langkah kedua untuk menyelamatkan korban . ada 4 langkah yang menentukkan keberhasilan pertolongan korban yang mengalami cardiac arrest :
Early Acces
Early CPR
Early Defibrillation
Early Advanced Cardiac Life Support


Tindakan CPR harus sudah dilakukan segera ketika korban mengalami serangan jantung. Semakin lama korban tidak mendapatkan pertolongan awal maka kemungkinan korban selamat menjadi lebih kecil. CPR harus sudah dilakukan kurang dari 4 menit setelah korban mengalami cardiac arrest tindakan ini akan mengurangi resiko kematian sel-sel otak. Tindakan RJP meliputi :
- Airway Management (Airway control)
- Breathing Management (Breathing Support)
- Circulation Management (Circulation Support)







Langkah – Langkah BHD


Airway Control
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menyelamatkan/membebaskan jalan nafas dari sumbatan. Sumbatan jalan nafas dapat terjadi karena beberapa hal. Lidah dapat menjadi sangat membahayakan jiwa ketika korban tidak sadar. Selain itu benda asing juga dapat menjadi penyebab obstruksi jalan nafas. Untuk membebaskan jalan nafas oleh karena lidah maka tindakan atau manuver Head-Tilt Chin-Lift cukup efektif pada korban non trauma cervical. Bila korban kita curigai trauma cervical, penolong yang terlatih bisa melakukan Jaw Thrust manuver.


Breathing Support
Periksa ada tidaknya pernafasan
Untuk memeriksa ada tidaknya nafas pada korban, tempatkan telinga penolong ke dekat mulut dan hidung korban sambil tetap membuka jalan nafas. Lakukan Look, lihat adakah pergerakan dada naik-turun, Listen ; dengarkan adakah suara pernafasan dan Feel, rasakan hembusan aliran udara nafas korban. Prosedur ini maksimal 10 detik.


Memberikan Bantuan Nafas
Bila korban tidak bernafas, segera berikan Initial Breathing 2 kali. Nafas yang diberikan jangan terlalu kuat, jangan terlalu banyak / melebihi yang dianjurkan ( rekomendasi AHA Guidelines for CPR 2005). Berikan bantuan nafas mouth to mouth dalam 1 detik dan harus menghasilkan pemgembangan dada (tampak dada naik – turun). Oleh karena itu pada saat memberikan bantuan nafas mata tetap selalu melihat pergerakan dada . Bantuan pernafasan ini sebaiknya diberikan dengan pocket mask untuk menghindari penularan penyakit, atau menggunakan bag valve mask bila tersedia.
Untuk korban yang mengalami henti nafas tanpa disertai henti jantung maka penolong harus melakukan Rescue Breathing (bantuan nafas) 10 – 12 kali per menit ( 1 bantuan nafas setiap 5 – 6 detik) untuk korban dewasa. Berikan bantuan nafas 12 – 20 kali per menit untuk anak dan bayi ( 1 bantuan nafas setiap 3 – 5 detik)


Circulation Support
Kaji Nadi
Bantuan sirkulasi segera dilakukan bila korban mengalami henti jantung. Langkah ini dilakukan segera setelah bantuan pernafasan awal diberikan. Untuk mengetahui ada tidaknya denyut nadi, lakukan perabaan arteri carotis untuk orang dewasa dan anak serta arteri Brachialis atau femoralis untuk bayi. Tindakan ini dilakukan maksimal 10 detik.

Kompresi Dada
Indikasi pada korban yang mengalami henti jantung. Lakukan dengan tehnik yang benar. Awali dengan m,encari titik kompresi, cari arkus kosta dari arah penolong berada telusuri hingga keatas hingga teraba bagian bawah sternum. Letakkan salah satu telapak tangan yang lain diatas punggung tangan yang pertama, sehingga tangan dalam keadaan pararel. Jari- jari tangan saling mengunci. Untuk mendapatkan posisi yang efektif, beban tekanan dari bahu, posisi lengan tegak lurus, posisi siku tidak boleh menekuk posisi lengan tegak lurus dengan badan korban . Tekan sternum 4-5 cm untuk korban dewasa, lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi normal .


Perbandingan kompresi dan ventilasi mengacu pada AHA Guidelines for CPR 2005, untuk korban dewasa 30 : 2 dengan 1 atau 2 orang penolong. Pada anak dan bayi 30 : 2 bila penolong 1 orang dan 15 : 2 untuk 2 orang penolong. Kecepatan kompresi yang dianjurkan adalah 100 x per menit. Setelah RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit, 2 penolong harus berganti posisi, ventilator berpindah pada posisi kompresor dan sebaliknya.
Indikasi dihentikannya RJP hingga kini masih menjadi perdebatan, tidak ada batasan waktu yang tegas disebutkan oleh para ahli namun beberapa hal yang menjadi pertimbangan antara lain:
- Korban telah menunjukkan tanda – tanda kematian pasti.
- Sudah ada respons dari korban (Nafas dan nadi mulai ada)
- Penolong kelelahan, sementara EMS belum ada.

Rangkuman langkah – langkah BHD :
Kaji respons (panggil korban, goncangan lembut)
Aktifkan sistem EMS (call for help)
Periksa nafas (look, listen, feel) maksimal 10 detik.
Buka jalan nafas (head tilt – chin lift / jaw thrust)
Keluarkan benda asing yang ada dalam mulut (cross finger, finger sweep)
Berikan 2 bantuan nafas (1 detik pernafas) kaji adanya pengembangan dada.
Periksa nadi karotis
Mencari titik kompresi (2-3 jari diatas PX)
Tempatkan 1 telapak tangan pada titik tersebut, tangan yang lain letakkan diatasnya dengan posisi jari-jari saling bertautan.
Lakukan kompresi 30 kali. 100 x permenit teratur, diikuti dengan bantuan nafas sebanyak 2 x.
Kompresi dada dan bantuan nafas dilakukan selama 5 siklus.
Setelah 5 siklus CPR, periksa nadi karotis.
Bila korban pulih lakukan secondary survey (kaji adanya luka, fraktur perdarahan)
Berikan posisi recovery, bila tidak ada kontra indikasi.


Daftar pustaka

Hazinski M.F, 2005, Currents in Emergency Cardiovascular Care, Volume 16. Number 4, AHA Published.
John MF., 2006, Advanced Cardiac Life Support : Provider manual, AHA Published.
Wong Dl., 2004, Wong and Whaley’s Clinical Manual Of Pediatric Nursing, Edisi 4, Mosby-year Book, Inc.

Asuhan Keperawatan Klien PJK, Angina Pectoris & AMI
Oleh Rata Penuh
Dirhamsyah Tabes, S.Kep, Ns.

Pengertian
Penyakit Jantung Koroner adalah :
Terjadinya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard

Ketidakseimbangan ini dapat terjadi akibat :
Penyempitan arteri koroner
Penurunan Cardiac OutPut
Peningkatan kebutuhan O2 Miokard
Spasme arteri koroner

Manifestasi Klinis
Tanpa gejala
Angina pectoris
Infark miokard akut
Aritmia
Payah jantung
Kematian mendadak

Angina Pectoris Adalah :
rasa sakit dada akibat adanya iskemia otot jantung, sakit dada ini timbul karena timbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob pada sel miokard yang hipoksik.

Angina Pectoris dibagi atas :
Angina pectoris stabil (stable Angina)
Angina Pectoris tidak stabil (unstable Angina)
Angina Variant ( Angina prinzmetal)

Angina Pectoris Stabil
Yang tergolong dalam Angina pectoris stabil adalah sakit dada yang timbul saat melakukan aktifitas, rasa sakit tidak lebih dari 15 menit dan hilang dengan istirahat.

Angina Pectoris Tidak stabil
yang tergolong dalam UAP adalah sakit dada yang timbul saat istirahat, lamanya > 15 menit, ada peningkatan dalam frekuensi sakitnya atau ada gejala perburukan.

Angina variant / Prinzmetal
adalah bentuk UAP yang disebabkan oleh Spasme arteri koroner

Infark Miokard adalah :
kematian jaringan otot jantung yang ditandai adanya sakit dada yang khas selama > 30 menit, tidak hilang dengan istirahat atau dengan pemberian anti-angina.
Biasanya disebabkan oleh trombus arteri koroner. Lokasi dan luasnya infark tergantung letak arteri koroner yang tersumbat.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian
anamnesa :
keluhan sakit dada dapat dikaji dengan format analisa simptom (PQRST)
- faktor pencetus yang paling sering adalah
kegiatan fisik, emosi yang Ber>>, atau setelah
makan.
- kualitas/sifat sakitnya ; sakit dada dirasakan
didaerah Mid-Sternal, rasa sakit tidak jelas
akan tetapi banyak yang menggambarkan
sakitnya seperti ditusuk-tusuk, dibakar atau ditimpa
beban berat.
Penjalaran rasa sakit ke rahang, leher bahkan ke lengan dan jari tangan kiri.
Tanda dan gejala yang menyertai rasa sakit yaitu : mual. Muntah, keringat, keringat dingin, berdebar-debar, sesak nafas.
Lamanya sakit dada pada angina tidak melebihi 30 menit dan umumnya masih respons dengan pemberian obat-obatan anti angina baik oral maupun parenteral, sedangkan pada infark miokard rasa sakit > 30 menit, tidak hilang dengan obat-obatan anti angina, biasanya dengan pemberian analgetik seperti morfin dan pethidin Inj.

Riwayat penyakit dan pengobatan sebelumnya
Angina Pectoris
Infark Miokard
Hipertensi
Diabetes Melitus
Dll

Faktor resiko PJK
Hipertensi
Hiperkholesterol
Diabetes melitus
Merokok
Obesitas
Usia
Keturunan
Kepribadian tipe A

Pemeriksaan Fisik
Tanda – tanda vital
Tekanan darah, Nadi, pernafasan.
Perfusi perifer
Kulit, pulsasi arteri.
Bunyi jantung
Normal. S3/S4/murmur
Bunyi paru
Ronchi, wheezing
Respons Psikologis
Depresi
Gelisah / cemas
Denial

Prosedur Diagnostik
1. EKG
monitor EKG ; aritmia
rekam EKG lengkap ; T – inverted, ST – depresi atau Q pathologis.
2. Laboratorium
darah rutin, kadar enzim jantung CK, CKMB,
Fungsi ginjal. Fungsi hati, Profil Lipid.
3. Foto Thoraks
4. Echocardiografi
5. Kateterisasi
6. Scanning thalium

Analisa data dan Masalah Keperawatan
Gangguan perfusi miokard
Gangguan rasa nyaman
Kecemasan
Gangguan aktifitas
Potensial kurangnya pengetahuan dll.

Tujuan
Menurunkan kebutuhan oksigen
Meningkatkan suplai oksigen miokard
Mencegah perluasan kerusakanj miokard
Mencegah komplikasi

Intervensi Keperawatan
Tirah baring / posisi nyaman
Mengobservasi tanda-tanda vital
Memasang IV line
Memonitor EKG
Kolaborasi :
- Oksigen
- obat-obatan ; nitroglycerin,Beta- Blocker, Ca- antagonis, penenang; narkotik, laxativ, antikoagulan dan trombolitik.
Membantu ADL
Memberi penjelasan ttg prosedur yang dilakukan.
Mengambil sample darah untuk pemeriksaan
Mengobservasi efek samping obat.
Kolaborasi dengan ahli gizi.
Mengurangi Stimulus eksternal.
Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/klg
Memberi kesempatan pasien untuk bertanya ; mengungkapkan perasaannya.
Mengobservasi tanda – tanda komplikasi.
Fisiotherapi / mobilisasi