BASIC LIFE SUPPORT / BANTUAN HIDUP DASAR
Oleh :
Dirhamsyah Tabes, S.Kep. Ners
Pendahuluan
Keadaan gawat darurat bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan juga pada siapa saja. Keadaan ini membuat masyarakat dituntut untuk mengetahui lebih baik bagaimana tindakan pertolongan pertama pada korban yang masuk dalam keadaan gawat darurat tersebut. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit dengan prevalensi yang tinggi dalam kegawatdaruratan. Banyak korban yang mengalami serangan jantung atau heart attack tidak mendapatkan pertolongan yang layak dan semestinya sehingga mortalitas untuk kasus ini sangat tinggi.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan yang dilakukan untuk menolong korban yang dalam keadaan kehidupan (nyawanya) terancam. Tindakan ini merupakan langkah kedua untuk menyelamatkan korban . ada 4 langkah yang menentukkan keberhasilan pertolongan korban yang mengalami cardiac arrest :
Early Acces
Early CPR
Early Defibrillation
Early Advanced Cardiac Life Support
Tindakan CPR harus sudah dilakukan segera ketika korban mengalami serangan jantung. Semakin lama korban tidak mendapatkan pertolongan awal maka kemungkinan korban selamat menjadi lebih kecil. CPR harus sudah dilakukan kurang dari 4 menit setelah korban mengalami cardiac arrest tindakan ini akan mengurangi resiko kematian sel-sel otak. Tindakan RJP meliputi :
- Airway Management (Airway control)
- Breathing Management (Breathing Support)
- Circulation Management (Circulation Support)
Langkah – Langkah BHD
Airway Control
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menyelamatkan/membebaskan jalan nafas dari sumbatan. Sumbatan jalan nafas dapat terjadi karena beberapa hal. Lidah dapat menjadi sangat membahayakan jiwa ketika korban tidak sadar. Selain itu benda asing juga dapat menjadi penyebab obstruksi jalan nafas. Untuk membebaskan jalan nafas oleh karena lidah maka tindakan atau manuver Head-Tilt Chin-Lift cukup efektif pada korban non trauma cervical. Bila korban kita curigai trauma cervical, penolong yang terlatih bisa melakukan Jaw Thrust manuver.
Breathing Support
Periksa ada tidaknya pernafasan
Untuk memeriksa ada tidaknya nafas pada korban, tempatkan telinga penolong ke dekat mulut dan hidung korban sambil tetap membuka jalan nafas. Lakukan Look, lihat adakah pergerakan dada naik-turun, Listen ; dengarkan adakah suara pernafasan dan Feel, rasakan hembusan aliran udara nafas korban. Prosedur ini maksimal 10 detik.
Memberikan Bantuan Nafas
Bila korban tidak bernafas, segera berikan Initial Breathing 2 kali. Nafas yang diberikan jangan terlalu kuat, jangan terlalu banyak / melebihi yang dianjurkan ( rekomendasi AHA Guidelines for CPR 2005). Berikan bantuan nafas mouth to mouth dalam 1 detik dan harus menghasilkan pemgembangan dada (tampak dada naik – turun). Oleh karena itu pada saat memberikan bantuan nafas mata tetap selalu melihat pergerakan dada . Bantuan pernafasan ini sebaiknya diberikan dengan pocket mask untuk menghindari penularan penyakit, atau menggunakan bag valve mask bila tersedia.
Untuk korban yang mengalami henti nafas tanpa disertai henti jantung maka penolong harus melakukan Rescue Breathing (bantuan nafas) 10 – 12 kali per menit ( 1 bantuan nafas setiap 5 – 6 detik) untuk korban dewasa. Berikan bantuan nafas 12 – 20 kali per menit untuk anak dan bayi ( 1 bantuan nafas setiap 3 – 5 detik)
Circulation Support
Kaji Nadi
Bantuan sirkulasi segera dilakukan bila korban mengalami henti jantung. Langkah ini dilakukan segera setelah bantuan pernafasan awal diberikan. Untuk mengetahui ada tidaknya denyut nadi, lakukan perabaan arteri carotis untuk orang dewasa dan anak serta arteri Brachialis atau femoralis untuk bayi. Tindakan ini dilakukan maksimal 10 detik.
Kompresi Dada
Indikasi pada korban yang mengalami henti jantung. Lakukan dengan tehnik yang benar. Awali dengan m,encari titik kompresi, cari arkus kosta dari arah penolong berada telusuri hingga keatas hingga teraba bagian bawah sternum. Letakkan salah satu telapak tangan yang lain diatas punggung tangan yang pertama, sehingga tangan dalam keadaan pararel. Jari- jari tangan saling mengunci. Untuk mendapatkan posisi yang efektif, beban tekanan dari bahu, posisi lengan tegak lurus, posisi siku tidak boleh menekuk posisi lengan tegak lurus dengan badan korban . Tekan sternum 4-5 cm untuk korban dewasa, lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi normal .
Perbandingan kompresi dan ventilasi mengacu pada AHA Guidelines for CPR 2005, untuk korban dewasa 30 : 2 dengan 1 atau 2 orang penolong. Pada anak dan bayi 30 : 2 bila penolong 1 orang dan 15 : 2 untuk 2 orang penolong. Kecepatan kompresi yang dianjurkan adalah 100 x per menit. Setelah RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit, 2 penolong harus berganti posisi, ventilator berpindah pada posisi kompresor dan sebaliknya.
Indikasi dihentikannya RJP hingga kini masih menjadi perdebatan, tidak ada batasan waktu yang tegas disebutkan oleh para ahli namun beberapa hal yang menjadi pertimbangan antara lain:
- Korban telah menunjukkan tanda – tanda kematian pasti.
- Sudah ada respons dari korban (Nafas dan nadi mulai ada)
- Penolong kelelahan, sementara EMS belum ada.
Rangkuman langkah – langkah BHD :
Kaji respons (panggil korban, goncangan lembut)
Aktifkan sistem EMS (call for help)
Periksa nafas (look, listen, feel) maksimal 10 detik.
Buka jalan nafas (head tilt – chin lift / jaw thrust)
Keluarkan benda asing yang ada dalam mulut (cross finger, finger sweep)
Berikan 2 bantuan nafas (1 detik pernafas) kaji adanya pengembangan dada.
Periksa nadi karotis
Mencari titik kompresi (2-3 jari diatas PX)
Tempatkan 1 telapak tangan pada titik tersebut, tangan yang lain letakkan diatasnya dengan posisi jari-jari saling bertautan.
Lakukan kompresi 30 kali. 100 x permenit teratur, diikuti dengan bantuan nafas sebanyak 2 x.
Kompresi dada dan bantuan nafas dilakukan selama 5 siklus.
Setelah 5 siklus CPR, periksa nadi karotis.
Bila korban pulih lakukan secondary survey (kaji adanya luka, fraktur perdarahan)
Berikan posisi recovery, bila tidak ada kontra indikasi.
Daftar pustaka
Hazinski M.F, 2005, Currents in Emergency Cardiovascular Care, Volume 16. Number 4, AHA Published.
John MF., 2006, Advanced Cardiac Life Support : Provider manual, AHA Published.
Wong Dl., 2004, Wong and Whaley’s Clinical Manual Of Pediatric Nursing, Edisi 4, Mosby-year Book, Inc.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar